MENGGAPAI CITA DALAM BERAT MAUPUN RINGAN

Diposting : Agus Ahmad Durri   Tanggal : 15 Maret 2017 11:53:42   Dibaca : 168 Kali

Di penjara Damaskus, sesosok tinggi ranggi menatap hari-hari dengan mata penuh cahaya. Tak terlihat raut dendam apatah lagi murka di wajahnya. Namun, beberapa muridnya justru sesak dadanya, menggenang pelopak matanya, sedih dan berat melihat sang Imam yang dicintainya itu harus menerima ujian penjara. Salah seorang muridnya kemudian berujar lembut pada beliau “Wahai Imam,,” begitulah ujarnya “Apakah yang telah dilakukan para penguasa itu sampai-sampai engkau harus dipenjara seperti sekarang ini? Mengapa saat tentara Mongol menyerang kerajaan, justru engkau di panggil sang raja sebagai panglima perangnya. Dan tatkala perang itu usai sang raja justru kembali menjebloskanmu kedalam penjara?”

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah itu tersenyum mendengar kata-kata muridnya lalu beliau menatapnya seraya dibalik jeruji-jeruji besinya yang mengkarat dan temboknya yang berlumut itu, beliau ucapkan kekatanya yang menyejarah “Apa yang telah mereka lakukan padaku? Sungguh jiwaku merdeka dalam genggaman Allah. Jika aku dipenjara sekalipun, jadilah ini adalah rehatku. Jika aku dibuang, maka ini adalah tamasya ku. Jika dibunuhpun, apalagi yang lebih kurindukan selain bertemu Allah Azzawajalla?. Dan... adapun apa yang mereka, para penguasa itu lakukan padaku adalah urusan mereka kelak dihadapan Allah Azzawajalla sedang urusanku adalah berjihad dijalan-Nya.”  

Kita kan mengenang, dibalik jeruji-jeruji besi itu Ibnu Taimiyah telah menatap cita-citanya dalam berat maupun ringan. Teringat kembali saat tawaran muridnya yang berkata “Wahai Guru, lalu apa yang harus kami lakukan untukmu?”. Ibnu Taimiyah justru tersenyum lembut pada murid-muridnya “Lemparkanlah saja arang- arang perapian itu kemari...” begitu ujarnya “Sungguh sang raja telah menahanku dari menulis beberapa hari ini.”

Kelak! Kita kan ketahui bersama dari arang sisa perapian itu, Imam Ibnu Taimiyah merangkai kata demi kata di dinding penjara yang licin dan berlumut, yang pengap dan pesing, hingga tersusunlah sebuah karya yang mengabadi. Ialah Risalatul Hamawiyah, sebuah kitab yang sangat menakjubkan. Tersusun dari tangan seorang ulama yang jernih hatinya yang menjadikan keikhlasannya mampu menari diatas semua aral melintang. Inilah karya cita-citanya yang dilaluinya dalam berat maupun ringan. Terasa ia bertamasya meski sejati ia dibuang negeri antah, berehat ia penuh bahagia meski dirinya dalam penjara, dan tentram hatinya saat ancaman mati untuknya. Karena jiwanya telah merdeka, yang menjadikan visi hidupnya adalah syurga bertemu Allah Azzawajalla.

Luar biasa sobat, adakah kita telah seujung kuku cercahan kebaikan seperti yang dimilki para ulama? Saat kita kenang tiap langkah perjuangannya, hati dan jiwa kita kan bergetar dan takjub. Bertahun-tahun sudah, bahkan ratusan tahun kehidupan lampau mereka, namun kisahnya mampu mengokohkan jiwa-jiwa yang senantiasa mengenangnya. Begitulah kisah para ulama bersama cita-citanya, karena berapapun besarnya cita-cita takkan sempurna jika bukan urusan akherat yang didamba.

Mari, melangkahlah bersama dengan cita-cita yang tinggi dalam keadaan berat maupun ringan, hadapi setiap rintangan dan cobaan yang kian menghadang “Tetaplah berkebajikan..” tutur filsuf Aristoteles “dan biarlah orang lain berkata tentang dirimu sesuka mereka.” Berangkatlah dalam berat nan ringan, sebagaimana James Allen berucap “Bekerjalah dengan senang hati dan dengan ketenangan jiwa hingga kamu menyadari, bahwa muatan pikiran yang benar akan mendatangkan hasil yang benar!” Dan hadapilah dalam berat maupun ringan, “Sesungguhnya pahalamu senilai dengan kadar payahmu” sabda Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam.  (Agus, Al-Math)