MENJADI PENULIS YUK..!!

Diposting : Agus Ahmad Durri   Tanggal : 30 April 2017 10:01:57   Dibaca : 181 Kali

Menulis kadang tak semudah apa yang kita pikir, berkali-kali sudah kita luangkan waktu sejenak menulis apa yang ada dalam benak. Menelisik berbagai hal dalam kehidupan hingga kita tuangkan dalam tinta keabadian. Kadang kita merasa senang saat karya telah terselesaikan namun kadang justru kita sedih saat karya terasa menjijikan. Kita menyadari betapa sulit kita merangkai kata; adakalanya bangga seusai berkarya namun menggelikan saat kembali kita baca. Namun hari ini, mungkin tak perlu lagi sahabat bersedih, karena disebutkan bahwa tatkala tulisan tempo lalu kembali kita baca dan kita tertawa akannya, justru terbaca itulah adanya kemajuan. tapi saat kita masih saja mengagumi tulisan yang tempo kita tulis, ah justru itu agaknya menyedihkan. Hehe... Sahabat, sebenarnya menulis merupakan rangka kita mengikat kembali ilmu yang dahulu kita pahami. Jika tanpa menulis mungkin akan sulit kita kembali mengingat ilmu-ilmu yang dulu kita tahu. Benarlah memang menulis itu berat, namun hentakan hati agaknya itu perlu. Sadari kita bahwa ilmu adalah buruan sebagaimana kias Asy-Syafi’i maka ikatlah ilmu dengan tulisan. Kita tak perlu khawatir akan jeleknya susunan kata kita karena bisa jadi saat kita berbagi, setumpuk koreksian menghampiri. Meski kadang datang berupa celaan namun tertafakuri ini itu, kita semakin bertambah perbendaharaan ilmu. Perlu kita sadari menulis bukan semata kita tahu lalu kita berbagi dan memberi tahu, tapi penting stigma kita diganti dengan dzauq berupa kata “kutulis apa yang kuketahui, berharap sejuta koreksi datang menghampiri. Inilah sedikit yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kautahu.” Terkadang siapapun penulis yang merasa “aku tahu engkau tidak tahu lalu aku beri tahu” akan sering mendapat kemacetan saat tengah menulis, begitupula kita akan sering merasa sesak dadanya tatkala berjuta komentar pembaca menyerang dan mencela. Namun bila penulis merasa “inilah yang kuketahui, berkenanlah kiranya pembaca mengoreksi tulisanku ini” maka silih berganti dirinya akan terasa jutaan pembaca menjadi guru yang kan meluruskan tiap kekeliruannya. Maka kini tak perlu kita malu untuk berbagi, karena tiap goresan jemari pasti kan mengilhami, hanya saja kita perlu mempertimbangkan mengilhami kepada kebaikankah atau malah keburukan. Karena bagaimanapun tulisan bukan pada keabadian karya semata atau soal masyhurnya nama namun ia adalah pada soal pewarisan nilai; kemaslahatankah atau kerusakan. Jadi yuk menulis dan berbagilah dalam kebaikan. (Agus, Al-Math)