BERLELAH MENGGAPAI CITA-CITA #EDISI 3

Diposting : Agus Ahmad Durri   Tanggal : 03 Mei 2017 10:03:52   Dibaca : 167 Kali

Terkisah saat dinobatkan sebagai khalifah dinasti Umayyah untuk menggantikan sepupunya. Umar bin Abdul Aziz ikut serta mengurus pemakaman jenazah sang khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Sepulang beliau dari pemakaman, beristirahat beliau sejenak karena lelahnya. Namun putranya, Abdul Malik bin Umar, sesegera membangunkannya, ia beteriak dan berkata padanya “Ayah, bangun ayah!” teriaknya. Umar pun lalu menyahut “Nak, ayahmu hendak beristirahat sejenak, lelah sekali sejak tadi”. “tapi ayah...” sahut putranya “ada yang tidak bisa menunggu hak-hak rakyat yang terdzalimi, pejabat-pejabat yang kejam yang belum digantikan dengan yang lebih baik. Rakyat menunggu keputusanmu hari ini juga” Umar menatapnya dengan wajah pucat, berkata beliau kepada anaknya “Nak, tidak bisakah ayah istirahat sejenak dan bisa kulakukan itu esok hari”. Kata sang anak “Apakah ayah bisa menjamin ayah masih memiliki umur sampai besok pagi, dan ayah akan melalukan itu esok pagi?”, tersengat Umar mendengarnya, “Allahuakbar” seru Umar bin Abdul Aziz. Beliau bangkit segera dari tempat tidurnya seraya berucap lembut “Segala puji bagi Allah swt yang telah mengaruniakanku anak yang soleh yang meluruskanku ketika kukeliru, yang mengingatkanku ketika kulalai.” Dan hari itulah beliau bangkit bergegas dan bertugas tanpa henti, nyaris beliau tak kenal istirahat, berlelah berpayah beliau menggapai visi, berderai keringat dalam jihad. Bila kita kenang negara yang beliau pimpin membentang 24 negara dari Maroko ke Afganistan, dari Armenia hingga suddan bahkan Yaman, namun besarnya wilayah kekuasaanya itu, kita sekarang masih bisa mengenang akan kejayaan kaum Muslimin pada zaman Umar bin Abdul Aziz, indahnya masih terjelinapkan detik ini.

Syahdan, mari kita menggapai visi dengan ikhtiar kita, berlelah meski berat maupun ringan bersama kita tekadkan ke haribaan tuhan semesta alam. kawan, teringat juga kita pada seorang lelaki yang saat langkah kakinya terserok, usianya yang menginjak udzur, berjalan menyongsong konstantinopel dengan mata penuh harap. Bersama pasukan Yazid bin Muawiyah, ia berjalan menuju jihad pirang. Pedangnya yang seharusnya ia genggam dan tenteng tuk mengayun dan menyerang musuh justru digunakannya sebagai terompah langkah kakinya. Tertatih ia sepanjang perjalanan, peluh tubuhnya, sempoyongan langkahnya, berkali-kali memenggap nafas. Aduhai, sesiapa yang memandangnya mungkin kan ingin berujar padanya tuk tetap dalam kota Madinah saja. Namun, tatkala benar-benar salah seorang berujar lembut pada beliau “Wahai Imam” ujar Yazid “Sesungguhnya kami mengetahui usiamu menginjak delapan puluh tahun, Allah swt kan pasti memahami bahwa engkau telah udzur. Tetaplah wahai imam dalam rumah saja.” Abu Ayyub Al Anshari r.a.justru tersenyum mendengarnya, dan berujar “Tidak tahukah engkau Nak..” jawab beliau Al Anshori “Sesungguhnya ‘udzur telah dihapus oleh firman-firman-Nya, ‘Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat!”

Berangkatlah dan teruslah berusaha kita menggapai cita-cita dalam keadaan ringan maupun berat. Bersama kita menggapai ilmu dan meraih kesuksesan dunia akhirat. Jangan menyerah, mari bersama kita berusaha. Karena kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, perlu ikhtiar dan do’a yang terus beriiringan di setiap langkah. (Agus, Al-Math)