MEMBEBAS MAKNA VISI

Diposting : Agus Ahmad Durri   Tanggal : 09 Februari 2017 22:40:28   Dibaca : 267 Kali

Berjuta mimpi bertebar dalam relung angan, terbang menerawang dalam jalur rumit otak. Sesaat kita mengingat sesaat pula kita mudah tuk lupakan, adakah sobat kita miliki getar mimpi dalam hati penuh ambisi menggapai visi..? Adalah Muhammad Al-Fatih Si singa usia muda yang cita-citanya tak pernah sirna sejak bisyaroh Rasulullah terdengar telinga. “Akan di taklukan Konstantinopel oleh tentara Islam...” bagitu sabda Rasulullah SAW “Pemimpinnya adalah sebaik-sebaik pemimpin, pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Imam Ahmad). Tujuh abad lamanya, sejak bisyaroh ini Rasulullah sabdakan, berbagai pasukan dari zaman ke zaman, dinding Konstantinopel tetap bertahan. Hingga sampai masa dinasti Utsmani, Muhammad Al-Fatih berdiri di ujung pantai Asia dan menatap Aya Sofiya. Disanalah benteng konstantinopel, bersama Syekh Syamsuddin gurunya, ia bertekad bahwa konstantinopel pasti kan takluk dan berharap agar dirinyalah yang kan menaklukkannya. Sebagaimana dalam do’anya “Ya Allah jadikanlah hamba sebaik-baik pemimpin sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Dan jikapun hamba tidak dapat menjadi sebaik-baik pemimpin jadikanlah hamba sebaik-baik pasukannya.” Inilah do’a yang menjadi semangatnya. Akan tetapi, dia memahami hanya seorang yang bertaqwalah yang mampu menaklukannya. Maka sejak saat itu, ikhtiarnya dalam menggapai cita ditunjukannya dengan mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa, tak pernah ia tinggalkan sunnah tahajudnya, duha, rawatib, puasa Ayyamul bidh, menghatamkan Al-Qur’an tak lebih dari satu bulan sejak usia balighnya. Senantiasa mempelajari ilmu-ilmu perang, strategi, kepemimpinan dan bahasa, hingga disebutkan telah menguasai delapan bahasa diusia 16 tahunnya.

Inilah visi yang ingin kita bincangkan. Visi yang bening nan cerah, Visi yang mampu mengubahnya menjadi manusia yang selalu mendekatkan diri kepada Allah Azza wajalla. Visi yang kuat dan kokoh. Visi yang mampu menjadikannya perkasa dan berwibawa dihadapan ribuan manusia. Visi yang menjadikan ia, diusia 21 tahunnya mampu membentuk pasukan Inkisariya dan memimpinnya. Visi yang tetap kokoh dan teguh meski berbagai cobaan bertubi menyerangnya, dan dia bersama pasukannya tetap menyongsong benteng Konstantinopel. Visi yang mampu menggelorakan jiwa-jiwa tentaranya saat putus asa melanda karena sulitnya mereka memasuki Konstantinopel. Visi yang membangkitkan semangat rekan-rekannya dan melakukan apa-apa yang tak dinyana akal manusia, seperti tatkala disebrangkannya 72 kapal melalui bukit Galata karena sulitnya tertembus lewat perairan hingga kemenangan diperolehnya, 29 Mei 1453 M.

Artikel ini penulis susun bukan untuk mengupas sejarah Muhammad Al-Fatih, karena itu bukan keahlian penulis. Melainkan penulis hanya ingin menujukkan kebodohannya pada khalayak tentang pemahamannya mengenai visi. Yap, Makna visi, seperti apakah itu? “Visi...” sebagaimana yang disampaikan Ust.Salim A Fillah “adalah mimpi yang bertanggal.” Mimpi yang bertanggal artinya mimpi yang jelas dan terarah. Mimpi kan mampu terlihat jelas dalam pelupuk mata adalah saat kita mengubah ia menjadi visi. Bagaimana caranya? Sematkan saja tanggal didalamnya, karena kekatanya Visi adalah mimpi yang bertanggal. Visi yang bertanggal kan terlihat nyata dalam gerakan dan sesegera bekerja meraihnya. Perhatikan contohnya kawan saat kita berkeinginan bangun tidur tuk shalat malam, atau bertekad tuk bangun tidur sepagi-pagi mungkin. Ah, agaknya kenginginan ini masih abstrak atau sebut setingkat mimpi. Bandingkan kawan saat kita ubah keinginan ini setingkat visi yang nyata bertanggal dengan tekad yang tergambar, terseketsa dan terstruktur, kita targetkan misalnya; ‘kita ingin bangun pagi jam 03.00 WIB’. Nah, jelaskan waktunya. Dengan demikian tentu sebelum tidur kita pasti kan putar jam beker terlebih dahulu, atau setidaknya teman kita kan membangunkan kita jam tiga, atau yang menakjubkan tanpa apapun bantuan karena kuatnya visi yang kita canangkan, kita kan tergerak sendiri terbangun dari terlelap malam.

Begitulah visi, pun ia dalam soal kehidupan, saat kita bermimpi tuk jadi orang sukses di kemudian hari, namun pernahkah kita renungkan ‘maksud visi menjadi sukses itu seperti apa?’ berlimpah harta kah? kekuasaan dimana-mana? titel yang memenuhi namanya?. Ah, itupun agaknya masih abstrak, jikapun ingin kaya raya seperti apakah jalannya? Semisal bisnismen; Menjadi tukang bubur lalu mendadak bisa naik haji? Ah muskil juga. Lalu? Caranya adalah tulis target kita lalu sematkan saja tanggal didalamnya dan kiranya Allah swt meridhai setiap ikhtiar kita dalam menggapainya. Sederhana.

 “Visi” ujar Albert Einsten “adalah lebih penting dari pengetahuan.” Pengetahuan bersifat terbatas sedang visi luas tak terbatas, visi adalah masa depan sedang pengetahuan adalah kini dan lampau. Maka gelora masa depan dengan visi, kan mengubahnya menjadi menakjubakan hari ini. Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam diabadikan dalam Al-Qur’an dengan sangat menakjubkan, berawal dari masa kanak-kanaknya, ia menceritakan sebuah mimpi kepada ayahandanya. “Sebelas bintang, mentari serta rembulan bersujud kepadanya.” Begitulah mimpinya. Mimpi itu kita ketahui adalah awal perjalanan hidupnya, tatkala ia dibuang kedalam sumur, ditolong lalu dijual sebagai budak, difitnah lalu dimasukan kedalam penjara, dan ia “penjara lebih disuka” dari pada mengikuti nafsu wanita-wanita yang menggodanya. Hingga kelak Allah merencanakan ia hadir ditengah gundah sang raja, di ambang keterpurukan, ia mengemban amanah. Menjadikan Yusuf a.s. berpeluh, berpayah, berlelah, dan Allah swt mewujudkan mimpinya tatkala Yusuf a.s. dengan takzim menaikkan Ayah-Bundanya ke singgahsana miliknya seraya mereka “Sebelas bintang, mentari serta rembulan” sujud hormat kepadanya. Subhanallah, Mimpi Nabi Yusuf a.s, ia terjaga dalam tidurnya namun ia naikan satu aras mimpinya menjadi visi hidupnya. Lalu apatah bedanya visi dengan mimpi? Saat mimpi yang kita tulis tampil dalam setiap helaan nafas, menjadikan mimpi kuat dan perkasa hingga masuk ke dalam dunia khayal kita bahkan ke dalam bawah alam sadar kita. Dan inilah mimpi yang menjadikan Yusuf a.s tetap optimis memandang dunia masa depannya. Visi adalah bagaimana ia terlihat jelas dalam pelupuk mata melakukan kerja-kerja nyata dalam menggapainya. Visi adalah tujuan hidup kita tuk bekerja keras dalam ikhtiar dan do’a. Tak perlu memikirkan sebarapa banyak cita-cita yang kan tergapai tapi seberapa besar ikhtiar kita dalam menggapai. Dan meski visi terlihat jauh tercapai dalam diri kita maka percayalah sinar mentari sesaat lagi kan merekah. Kita tahu kan, jam 7 malam itu gelap, lalu jam 10 malam semakin gelap, dan jam 2 nya malah semakin gelap. Namun, pernahkah kita perhatikan bahwa semakin gelap-semakin gelap, adalah tanda fajar kan mulai terlihat. Maka begitulah saat ujian kehidupan menempa kita semakin bertumpuk kian berat, semakin melelahkan dan memayahkan. Allah swt selalu ada untuk kita dan yakinlah fajar akan datang dan merekah.

Inilah sobat; visi, bukan sebatas pada keinginan hasrat untuk sesegera memiliki. Namun pada bagaimana kita meraihnya, berikhtiar kita menggapainya, serta bersusah berlelah dalam mengharap ridha-Nya. Hingga kita diberikan izin oleh-Nya tuk menyambut janji-Nya, yaitu Allah swt kan merubah suatu kaum bagi sesiapa yang kenan hendak mengubahnya. Dan adalah Allah Azza wajalla yang tak kan pernah mengingkari janji-Nya, maka tugas kita adalah berikhtiar-berdo’a-bertafakur berharap Allah swt kan mengulurkan karunia-Nya kepada kita dengan penuh keridhaan-Nya... Amiin.

Demikinlah, Mari bersama kita menggapai cita dalam keluarga SMK Yanuda Tama.(Agus, Al-Math)